Untuk Ikhwan Yang Hendak Ta’aruf sama Akhwat : Hati
hati, Anda Sedang Berurusan Dengan Ciptaan-Nya Yang Paling Perasa; Jangan Lukai
Mereka
Prolog :
Izinkan
aku bicara dari hati seorang wanita, yang mungkin bisa mewakili suara
saudari-saudariku, para akhwat pada umumnya..
Tulisan
ini dibuat untuk saudaraku para ikhwan, sedikit saya berpesan: Jika antum
hendak taaruf dengan seorang akhwat, maka HATI-HATI LAH, karena Anda Sedang
Berurusan Dengan Ciptaan-Nya Yang Paling Sensitif dan Paling Perasa,.. Jangan
Lukai Mereka !
Proses
’ta’aruf’ merupakan suatu proses awal menuju proses selanjutnya, yaitu khitbah
dan akhirnya sebuah pernikahan. Memang tidak semua sukses sampe tahap itu. Sang
Sutradaralah yang mengatur. Semua adalah skenario dan rekayasaNya. Manusia
hanya berencana dan ikhtiar, keputusan tetap dalam genggamanNya. Tapi kita
manusia juga diberi pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau baik atau buruk, mau
syurga atau neraka, mau sukses atau gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap
Allah Yang Maha Menentukan.
Aku
ingin titip pesan pada para ikhwan yang sdh memutuskan hendak melontarkan
perkataan ’ta’aruf’ pada seorang akhwat: Bagi para ikhwan, pikirkanlah
baik-baik, matang-matang, dan masak-masak sebelum menawarkan sebuah jalinan
bernama ta’aruf. Jangan mudah melontarkannya jika dalam hatimu tak ada komitmen
dan kesungguhan untuk meneruskannya. Sebelum benar2 terucap kalimat ‘TAARUF’
ini dari bibirmu, TANYAKAN..TANYAKAN SEKALI LAGI PADA HATIMU, benarkah engkau
akan melakukan itu dengan segala konsekuensi dan tanggung jawabnya..??
Mengertilah keadaan akhwat. Antum tahu, bahwa sifat kaum hawa itu lebih
sensitif. Akhwat mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui
atau tidak, akhwat adalah makhluk yang kadang mudah sekali GeEr, suka
disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih.
Jadi
saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang lelaki
baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi akhwat untuk menolak. Karena
jika akhwat menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya fitnah yang ada. Jadi,
tolong tanyakan lagi pada diri antum, apakah kata-kata itu memang keluar dari
lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang
Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik,
materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan? Sekali lagi,
berhati-hatilah dengan kata ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju
pernikahan. Pernikahan yg suci dan agung, yang saksinya adalah Allah Yang Maha
Melihat dan Para Malaikatnya yg mengamini.
Proses
’ta’aruf’ menuju pernikahan memerlukan sebuah rentang waktu tertentu. Bila
diibaratkan ta’aruf adalah pintu halaman rumah antum dan pernikahan adalah
pintu rumah antum, kemudian timbul pertanyaan, berapa jauhkah jarak pintu
gerbang menuju pintu rumah antum? padahal selama perjalanan akan banyak cobaan
menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah antum bisa membuat akhwat
terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat akhwat terlena. Ingin sekali akhwat
memetiknya, ingin sekali akhwat berlama-lama di sana menikmati keindahan dan
kenikmatan yang antum sajikan. Tapi tdk berhak, karena belum mendapat izin dari
si empunya rumah.
Akhwat
ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum menyuguhkan
keindahan-keindahan yang membuat akhwat lupa akan tujuan semula. Lebih
menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan akhwatpun
menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah akhwat
mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah antum
masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya. Saat itulah hati akhwat
hancur berkeping-keping.
Setelah
semua harapan terangkai, tapi kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau
mungkin antum akan membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya tepat.
Lalu antum membiarkan akhwat menunggu di teras rumah antum dengan suguhan yang
membuat akhwat kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan
akhwat berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau
belum siap membukakan pintu untuknya. Akhwat akan segera pulang karena mungkin
saja salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya hati
mereka. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung mereka dari teriknya
matahari dan derasnya hujan di luar sana. Mereka tak ingin mengkhianati calon
suami mereka yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu calon bidadarinya.
Menata istananya agar tampak indah. Sementara mereka berkunjung dan
berlama-lama di istana orang lain.
Akhi,
sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan. Cinta itu
akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak berbuat
maksiat . Itu pasti..! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya. Kita
tentunya tdk mau memakai label ‘ta’aruf untuk membungkus suatu kemaksiatan
bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma menjadi TTM (Ta’aruf
Tapi Mesra). Tolong hargai akhwat sebagai saudara antum. Akhwat bukan kelinci
percobaan. Akhwat punya perasaan yang tidak berhak antum buat ’coba-coba’.
Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan
merasa mantap, segera jemput mereka.
Dan
satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum menjemput.
Tentunya kita menginginkan kata ’berkah’ di awal, di tengah, sampai di ujung
pernikahan bukan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang menjadi tujuan.
Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa mantap pada akhwat itu.
Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari yang akan menghias istana
antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang tepat untuk menjemputnya. Sama
halnya jika antum yakin dan mantap untuk menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta
antum salah memilih kendaraan, akibatnya antum gak akan pernah sampai ke
Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya sudah bener tapi nggak efektif.
Terlalu lama di perjalanan. Masih keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu
terbuang percuma selama perjalanan. Jadi, antum juga harus memikirkan cara yang
baik/ahsan, tepat dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas
ridho dan keberkahanNya.
Semoga
pesan ini bisa menjadi bahan renungan antum, para ikhwan, calon qowwam kami
(para akhwat) dalam mengarungi bahtera rumah tangga Islami yang akan melahirkan
generasi penyeru dan pembela agama ALLAH. Akhirnya aku minta maaf, afwan jiddan
bila dalam pesan ini ada hal-hal yg kurang baik dan benar..
Akhi, dengarkanlah jerit hati
para akhwat ini:
“Aku
bukanlah seorang gadis muslimah yang cerewet dalam memilih pasangan hidup.
Siapalah diriku ini berani untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir
pasir yang wujud di mana-mana. Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita
solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga,
memimpinku ke arah tujuan yang satu..yaitu Ridho Allah Subhanahu WaTa’ala.
Tidak
perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas
perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi
Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati jutaan gadis
untuk membuat aku terpikat.
Andainya
kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa
kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak
diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu belum ada ikatan yg kuat dan halal,
jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk
begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut
perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam
kehidupan kita kelak.
Permintaanku
tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha
Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga
ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya
akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu
berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan
kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku
sendiri. Itu impianku.
Aku
pasti berendam air mata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu
kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan
mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi
daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali
di syurga….” Aamiin RYA.
ATAS NAMA TAARUF
Mungkin
salah seorang Ikhwan akan bertanya….Mengapa
wanita begitu selektif memilih orang yang akan taaruf..” maka..akhwat akan
menjawab:
suami
kami nanti kelak akan menjadi pemimpin kami…
akan
kami layani kebutuhannya….
akan
kami tunggu kehadirannya…
akan
kami berikan jiwa kami…raga kami….
bagaimana
mungkin kami lalai dalam memilih calon suami…meski hanya dalam rangka taaruf…??
suami
kami nanti akan menjadi pembimbing agama kami…penjaga kami…pelindung kami…
bagaimana
mungkin kami akan gegabah dalam menentukan pilihan…meski hanya sebatas tukaran
biodata..??
mentaati
suami kami adalah salah satu jalan kami ke surga…
ketaatan
pada suami adalah lambang keshalehan kami….
bagaimana
mungkin kami akan cepat memutuskan siapa pilihan kami meski hanya sebatas kata…
”baik
saya setuju…taarufan…”
ya
akhi….saudaraku…para ikhwan….
JANGAN
TAWARKAN KEISENGAN ATAS NAMA TAARUF PADA KAMI…!!!!!
KETAHUILAH…KAMI
ADALAH WANITA YANG BERBEDA…!!!!!
Akhwat
yang mengajukan gugatan ta’aruf…
Tatkala
seorang Akhwat susah mencari jodoh atau saat di Tolak ikhwan…
Tatkala Akhwat taarufnya di tolak ikhwan, buang jauh-jauh rasa kecewa, harus siap menerima dengan keikhlasan, kesabaran, qana’ah, beriman dengan qadha Dan Qadharnya Allah..
Ikhwan yang mengajukan gugatan ta’aruf…
Tatkala
seorang Ikhwan susah mencari jodoh atau saat di Tolak Akhwat …
Tatkala
Ikhwan di tolak Akhwat, buang jauh-jauh rasa kecewa, harus siap menerima dengan
keikhlasan, kesabaran, qana’ah Dan beriman dengan qadha Dan Qadharnya Allah..
Kedua
fenomena itu banyak terjadi Dan akan selalu terjadi, kita harus bijak menanggapi,
kita harus mencari ilmu yang mesti dipelajari.
Yang
celaka Adalah hamba penampilan, hamba bangsawan, hamba dinar …
Yang
selamat Adalah hamba Allah yang mengutamakan Tauhid Dalam hidupnya.
Allah
Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
Katakanlah:
“Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu)
agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk
orang-orang musyrik.”
Katakanlah:
sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan
semesta alam. (Qs. Al Anaam 161-162)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar